Bisnis Rokok Elektrik Vape di Indonesia

Kebiasaan masyarakat Indonesia untuk merokok masih tergolong tinggi dan sulit dihilangkan bahkan cenderung terus bertambah dengan masuknya rokok elektronik (vape) yang saat ini banyak di konsumsi kalangan muda. Walaupun di beberapa tempat sudah terpasang larangan untuk merokok, namun buktinya tiap tahun penerimaan negara dari cukai hasil tembakau terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah produksi dari masing-masing pabrik rokok tersebut.

Bisnis Rokok Elektrik Vape di Indonesia

Pemakaian rokok elektrik atau E-Cigarette atau lebih dikenal dengan sebutan vape sebenarnya telah ada sejak tahun 1963 namun baru dikembangkan secara serius pada tahun 2003 dan tahun 2006 mulai dijual ke seluruh dunia, sedangkan di Indonesia baru masuk pada tahun 2014.

Rokok Elektrik Vape

Rokok elektronik ini memang jauh dari penggunaan tembakau seperti halnya rokok konvensional. Cara kerjanya dengan menghisap pemanas logam atau disebut dengan vaporizer alias vape seperti yang sering diucapkan oleh penggunannya. Hisapan akan mengaktifkan baterai sehingga akhirnya memanaskan cairan dalam Cartridge yang menghasilkan nikotin dalam bentuk uap. Pemanas logam inilah yang

Para vaper sangat wajib mempunyai gadget utama, yakni device berupa alat segenggaman tangan hampir serupa dengan powerbank smartphone yang rata-rata terbuat dari besi. Device tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni mod adalah mesinnya, dan RDA adalah alat pembakar liquid.

Rata-rata pengguna vape dulunya juga perokok konvensional atau berbahan baku tembakau. Mereka mengkonsumsi vape hampir sama seperti mereka mengkonsumsi rokok. Beberapa anak muda mengaku suka vape karena bisa menghasilkan asap yang banyak, ketimbang asap rokok konvensional.

Bisnis Rokok Elektrik Vape

Kontroversi keberadaan vape sendiri sudah sering diperdebatkan, bahkan pemerintah telah membuat kebijakan agar vape menjadi barang yang diawasi dan dibatasi pemakaiannya. Saat itu pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menilai perlunya menghentikan peredaran vape karena dianggap akan banyak merugikan kepentingan umum, khususnya membuat kesejahteraan petani tembakau terganggu.

Rencana ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi pengguna vape maupun para penjualnya. Melalui diskusi dan perdebatan yang panjang, akhirnya pemerintah memutuskan vape dapat tetap digunakan, namun akan dikenakan tarif cukai pada cairan kimia yang digunakan sebagai bahan utama rokok elektronik tersebut.

Ketentuan ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 tentang tarif cukai, dimana pemerintah mengenakan cukai sebesar 57 persen dari harga jual terhadap cairan rokok elektronik ini. Dan peraturan ini berlaku sejak Oktober 2018. Alasan Pengenaan Cukai Untuk Rokok Elektrik Vape.

Kebijakan ini disambut dengan antusias oleh pengguna vape maupun para penjualnya. Vapor Squad Jakarta menilai penerapan cukai terhadap e-liquid ke depannya akan memajukan industri vape di Indonesia, bahkan mereka belum lama ini mengelar carnival sebagai bentuk apresiasi serta dukungan bagi para industi dengan dikenakannya cukai pada e-liquid.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi mengatakan bahwa saat ini untuk e-liquid walaupun kalah jauh dari penerimaan cukai hasil tembakau, namun mengingat kehadirannya di tanah air baru seumur jagung maka jumlah Rp 200 milyar sudah menunjukan perkembangan yang positif. Namun otoritas Bea Cukai tidak akan segan-segan jika ada yang menyalahi aturan.

Respon pengusaha sangat positif di mana secara komunitas sudah menyadari dan kini membeli pita cukai. Selain itu, dengan resminya pemerintah menetapkan tarif cukai pada vape, juga ditanggapi dengan suka cita oleh para pencinta vape mulai dari pengusaha hingga pemakai.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha e-Liquid Mikro (ApeM), Deni S, Pemerintah telah memberikan Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) kepada beberapa pengusaha liquid vape dalam rangka pemberlakuan tarif cukai sebesar 57 persen dari Harga Jual Eceran (HJE) untuk liquid vape.

Ada empat kemasan liquid vape yang bisa diperdagangkan di Indonesia, yakni 15 mililiter (ml), 30 ml, 60 ml, sampai 100 ml.

Dengan aturan ini tambahnya, pengusaha liquid vape memiliki kepastian untuk berbisnis vape. Bahkan, pengusaha juga percaya diri bisa mengekspor liquid vape dari dalam negeri. Bahkan, permintaan sudah ada, dan kini masih dalam proses untuk ekspor.

Demand-nya di angka 5.000-10.000 pcs per bulan untuk satu negara. Kondisi ini tentunya tidak disia-siakan oleh Bea Cukai, adanya peluang ekspor akan didukung sepenuhnya dengan memberikan insentif fiskal berupa pembebasan bea masuk untuk bahan baku dan pajak impornya.

Dengan resminya vape sebagai barang kena cukai dan menjadi barang yang dibatasi dan diawasi, membuat para vapers merasa tenang dan nyaman mengkonsumsinya. Karena selama ini vape dianggap barang ilegal dan dapat merusak kesehatan. Simak Apakah Rokok Elektrik Vape Aman Bagi Kesehatan?

Recommended For You

About the Author: Lentera Bisnis

Wiraswata bebas yang nggak mau terikat ikut berbagi informasi pengetahuan bisnis berdasarkan pengalaman dan dari sumber terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *