Strategi Menang Melawan Raksasa

Banyak pengusaha lokal yang menjadi bimbang bahkan ciut nyalinya karena harus berhadapan dengan para perusahaan raksasa yang sudah mapan di kawasan Asia Tenggara, saat memasuki era baru bersama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Namun ada kisah yang dapat menjadi sepercik harapan untuk tidak berkecil hati apalagi menyerah. Karena bisa saja yang selama ini dianggap ‘raksasa’ dapat ditaklukkan oleh seorang anak ingusan yang tidak punya pengalaman bertarung sama sekali.

Strategi Menang Melawan Raksasa

Strategi Menang Melawan Raksasa

Alkisah, tersebutlah bangsa Filistin yang berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah. Mereka bangsa pengarung samudra yang telah pindah ke Palestina dan menetap di sepanjang pantai. Di sisi lain terdapat bangsa Israel yang hidup bergerombol di pegunungan, di bawah kepemimpinan Raja Saul.

Pada paruh kedua abad kesebelas sebelum masehi, bangsa Filistin mulai bergerak ke timur menyusuri dasar Lembah Elah. Tujuan mereka adalah merebut pegunungan dekat Bethlehem dan membelah dua kerajaan Saul.

Bangsa Filistin berpengalaman dalam perang dan berbahaya, serta merupakan musuh bebuyutan bangsa Israel. Saul yang waspada langsung mengumpulkan rakyatnya dan bergegas turun gunung untuk menghadapi musuh.

Pasukan Filistin mendirikan perkemahan di punggung selatan Elah. Pasukan Israel berkemah di sisi seberangnya, di pungung utara, sehingga kedua pasukan itu bisa saling pandang menyeberangi lembah. Kedua pihak sama-sama tak berani maju lebih dulu. Menyerang lebih dulu berarti turun punggung bukit lalu menantang bahaya dengan mendaki bukit yang ditempati musuh

Akhirnya orang-orang Filistin kehabisan kesabaran. Mereka utus prajurit terhebat Filsitin ke dasar lembah untuk memecah kebuntuan dengan bertarung satu-lawan-satu.

Sang prajurit adalah seorang raksasa, tingginya minimal dua meter, mengenakan helm perunggu dan zirah (baju perang yang terbuat dari logam) lengkap. Dia membawa lembing, tombak dan pedang. Seorang bujang mendampinginya, membawakan perisai besar.

Si raksasa menghadapi pasukan Israel dan berteriak menantang: “Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan aku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami”

Kubu Israel ketakutan; tak seorang pun bergerak maju. Siapa yang dapat menaklukkan musuh semengerikan itu! Lalu, seorang bocah gembala yang tadinya turun dari Bethlehem untuk membawakan makanan kepada kakak-kakaknya melangkah maju dan mengajukan diri.

Baca juga:  5 Faktor Yang Membuat Karyawan Bekerja Lebih Produktif

Saul menolak: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedangkan dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tapi si gembala bersikeras. Dia sudah pernah menghadapi lawanlawan yang lebih ganas, katanya.

“Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,” katanya kepada Saul, “maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.”

Saul tak punya pilihan lain. Dia akhirnya membiarkan si bocah gembala berlari menyongsong si raksasa yang berdiri di dasar lembah. “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang,” seru si raksasa ketika melihat lawannya tiba. Dan dimulailah salah satu pertarungan paling terkenal sepanjang sejarah. Nama si raksasa adalah Goliath. Si bocah gembala adalah David.

Kita tahu bagaimana akhir dari kisah heroik ini, David dengan bersenjatakan katapel ayun mampu menjatuhkan sang raksasa Goliath dalam satu hempasan ke titik vital di dahinya. Kisah ini saya kutip dari kisah pembuka dalam buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Melawan Perusahaan Raksasa

Rasanya masih terasa relevan untuk kita bahas saat ini. Mengingat kondisi bangsa Indonesia yang baru saja memasuki era baru bersama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), banyak pengusaha lokal yang menjadi bimbang bahkan ciut nyalinya karena harus berhadapan dengan para perusahaan raksasa yang sudah mapan di kawasan Asia Tenggara.

Bisa jadi kisah ini dapat menjadi sepercik harapan untuk kita tidak berkecil hati apalagi menyerah. Karena bisa saja yang selama ini dianggap ‘raksasa’ dapat ditaklukkan oleh seorang anak ingusan yang tidak punya pengalaman bertarung sama sekali.

Hal ini bukan isapan jempol semata. Sudah banyak contoh pemegang tahta bisnis dalam sebuah industri ditaklukkan oleh sang penantang yang awalnya tidak dipandang

Sebut saja raja produk elektronik dunia dari Jepang, Sony yang saat ini takluk di hampir semua lini oleh Samsung yang sempat diremehkannya. Yahoo sebagai jawara yang dipecundangi oleh Google yang para pendirinya adalah junior mereka. Dan masih banyak contoh lainnya.

Di dalam negeri kita tau bagaimana Pertamina sebagai pemain ‘kampung’ mampu tampil sebagai jawara setelah digempur habis-habisan oleh para raksasa energi dunia seperti Shell, Petronas, Total, dan lain lain.

Baca juga:  5 Kebiasaan Orang Jerman yang Patut untuk Diadaptasi

Juga kisah bagaimana Dunkin Donuts yang merupakan salah satu restoran terbesar di dunia dengan hampir 7.000 cabang di lebih dari 35 negara dapat ditaklukkan oleh sang penantang ‘igusan’ J.Co yang merupakan brand asli Indonesia.

Strategi 4 S

Kisah-kisah ini akhirnya membuat saya mengambil sebuah kesimpulan sederhana. Kunci keberhasilan si kecil dapat menaklukan sang raksasa adalah dengan strategi 4 S.

SMART

Si kecil sebagai penantang dan pemain baru tidak bisa ikut bertarung pada laga yang sudah dikuasi sang raksasa. Si kecil dipaksa untuk mencari cara lain di luar kebiasaan yang ada. Dalam kasus David melawan Goliath, David tidak meladeni permintaan Goliath untuk bertarung dalam jarak dekat seperti kebiasaan bertarung zaman itu, jika itu dilakukan jelas David hanya akan menjadi daging cincangan bagi si raksasa ganas tersebut. Ia memilih cara bertanding lain, yakni dengan jarak tanding yang dia kuasai dengan senjata katapelnya.

SHARP

Ketika si kecil mampu mengenali kelemahan si raksasa, pukulan yang disarangkan haruslah tajam dan terarah di titik vital dalam sebuah gerakan yang sangat efisien. Jika saja ayunan pertama David gagal mengenai titik vital Goliath secara telak, maka akan sulit mengulang momentum serupa di kesempatan-kesempatan berikutnya, karena sang raksasa akan segera menyadari kelemahannya dan bergegas melindungi titik lemah tersebut. Alhasil kesempatan emas si kecil akan kandas.

SPEED

David memiliki tubuh yang ringan tanpa zirah dan tameng yang besar. Hal ini membuatnya mampu bergerak lebih leluasa dan gesit. Berbeda dengan si raksasa yang bobot badannya sudah tinggi besar ditambah lagi dengan semua perlengkapan perang standar yang harus dipikulnya. Hal ini membuatnya menjadi kaku dan lamban.

SOCIAL IMPACT

David bersedia mempertaruhkan jiwa raganya melawan sang raksasa ganas bukan demi kemasyuran namanya, ia tidak egois mengejar kemenangan untuk keuntungan pribadinya semata, namun ia bertarung demi menyelamatkan orang banyak.

Khusus bagian ini saya ingin menambahkan bahwa berbisnis di era digital saat ini aspek social menjadi begitu penting. Bisnis yang hanya mementingkan keuntungan semata, mudah ditinggalkan oleh konsumennya. Namun bisnis yang bertujuan untuk kebermanfaatan bagi banyak oranglah yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang. Selamat bertarung saudaraku!

Oleh Kevin Wu, Pengusaha muda, pembicara public, penulis buku #QualityImplementation #EverythingIsPossible dan #BerubahAtauPunah.

 

Strategi Menang Melawan Raksasa

Loading...

About the Author: Lentera Bisnis

Wiraswata bebas yang nggak mau terikat ikut berbagi informasi pengetahuan bisnis berdasarkan pengalaman dan dari sumber terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *