Perkembangan Metode Audit Pada Dunia Audit

Pada awalnya, Internal Audit dibentuk sebagai mata dan telinga pimpinan tertinggi di perusahaan, karena dalam mendapatkan informasi berbentuk laporan dari setiap lini bisnisnya, pimpinan tertinggi memerlukan opini pihak independen, yaitu Internal Audit.

Saat ini Internal Audit disadari merupakan partner yang tidak dapat dipisahkan dalam menjalankan bisnis perusahaan manapun yang menginginkan progress pencapaian bisnis yang cepat dalam persaingan untuk mencapai target yang telah ditentukan.

Metode Audit Pada Dunia Audit

Untuk mendapatkan efektivitas pemeriksaan (assurance), dunia telah memikirkan, pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan kemungkinan-kemungkinan hambatan terhadap tidak tercapainya tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka menengah. Kemungkinan-kemungkinan hambatan tersebut dalam bahasa sederhananya adalah risiko. Perjalanan proses audit dari cara tradisional ke metodologi saat ini, yaitu audit berbasis risiko (Risk Base Audit, RBA) telah berlangsung lebih dari 100 tahun.

Evolusi Metode Audit Yang Terjadi di Dunia Audit

Perjalanan proses audit dari cara tradisional ke metodologi saat ini, yaitu audit berbasis risiko (Risk Base Audit, RBA) telah berlangsung lebih dari 100 tahun. Berikut perkembangan metode audit yang ada.

Audit Kepatuhan (Compliance)

Metode ini adalah cikal bakal audit di dunia. Audit berbasis ketentuan, pelaksanaan audit selalu diukur dengan ketentuan yang ada, temuan yang didapat hanya bila melanggar ketentuan, baik ketentuan perusahaan apalagi ketentuan kepatutan. Audit ini masih relevan untuk kasus-kasus tertentu, seperti evaluasi terhadap pelanggaran lingkungan. Akan tetapi ini tentunya akan tidak mengoptimalkan aktivitas Internal Audit.

System Base Audit (SBA) 

Metode ini dilaksanakan oleh Fungsi Internal Audit yang lebih modern. Metode ini dilaksanakan dengan pendekatan evaluasi dan analisa terhadap sistem dan proses bisinis perusahaan yang diaudit, sehingga mendapatkan risiko terbesar pada sistem tersebut sering kali tidak berhasil. Penyebab dari kegagalan mendapatkan risiko terbesar karena pendekatan evaluasi dan analisanya bersifat horizontal. Yaitu, mengarah kepada aktivitas ke aktivitas berikutnya pada sistem atau pada bisnis proses yang sedang dievaluasi. Termasuk assessment pada test of control yang berdasarkan aktivitas transaksi, sehingga akhirnya tidak didapat Risiko Big Fish. Padahal, risiko besar ini akan didapat bila kita menganalisa sistem ke arah horizontal dan juga ke arah vertikal. Cradle to the grave akan terjadi bila kita menggunakan metode SBA ini.

Risk Base Audit 

Risk Base Audit adalah perbaikan dari metode System Base Audit, fokus adalah mendapatkan Risiko Big Fish yang ada di perusahaan itu dengan cara menganalisa bisnis proses di level manapun untuk mendapatkan risiko terbesar di sistem tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan ke level yang lebih tinggi lagi sampai ke level tertinggi dalam rangka mendapatkan risiko big fish nya. Fokus dari metode ini adalah pada objektif dari bisnis ini, tidak pada kontrol risiko yang ada. Rekomendasi yang disepakati akan sangat melibatkan pihak manajemen bahkan sampai ke tingkat top manajemen di perusahaan tersebut.

Value for Money 

Audit ini menekankan pada review untuk menentukan apakah nilai optimum dari uang yang digunakan di perusahaan telah tercapai dan apakah telah ada rekomendasi untuk peningkatan profit terkait dengan nilai uang yang digunakannya. Audit ini merupakan salah satu pengembangan dari RBA. Secara sederhana, audit ini dapat dicontohkan pada saat dilakukan evaluasi terhadap biaya perjalanan dinas, biaya penggunaan telepon, biaya kecil lainnya, seharusnya evaluasi untuk diaudit juga dilakukan terhadap RKAP perusahaan yang terkait dengan rencana anggarannya.

Assurance-Based Audit (ABA) 

Metode ini adalah metode terakhir yang banyak digunakan dan yang membuat Internal Audit dijadikan fungsi yang sukses dalam melaksanakan tugasnya. ABA menggunakan pendekatan risiko dalam pelaksanaan assurance-nya berdasarkan hasil koordinasi dengan fungsi lainnya, seperti HSSE, Keuangan, Inspeksi Peralatan, dan Fungsi Reliabilitas di perusahaan tersebut, sehingga duplikasi pelaksanaan assurance diminimalisasi ke tingkat terendah dan tidak ada yang terlewatkan suatu aktivitas yang berisiko tanpa dilakukan assessment. Laporan hasil auditnya disampaikan ke Board of Director sesuai dengan rencana pelaksanaan assesment.

 Evolusi Metode Audit di Dunia Audit – Lentera Bisnis

 

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *