Usaha Batik Motif Jumputan Khas Bojonegoro

Batik motif jumputan khas Bojonegoro, terus berkembang bahkan menjadi nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian puluhan perajin yang tergabung di UD Rizki Batik. Usaha yang dikelola Hj. Sri Supatiniyati ini, cukup dikenal di Dusun Medalem Timur, Kecamatan Sumber Rejo. Menggeluti kerajinan batik jumputan bercorak terang sudah dilakoni Sri yang merintis usahanya pada tahun 1980 hanya bermodalkan 500 ribu rupiah.

Saya tidak mau tergantung pada orang lain, sejak kecil saya sudah berkeinginan punya usaha sendiri. Makanya sejak SMP sudah mulai cari duit sendiri dengan menekuni jahit menjahit.

Usaha Batik Motif Jumputan Khas Bojonegoro

Ibu dua orang anak inipun jeli membaca pasar, dan memilih bisnis batik dengan teknik jumputan, karena diyakini batik jumputan masih jarang yang memproduksinya, jika dibandingkan dengan batik tulis.

Usahanyapun berkembang hingga mampu mendirikan konveksi dengan tujuh orang karyawan. Sayangnya, di tahun 1998 usaha Sri tak luput dari badai krisis moneter hingga usahanya rugi  dan gulung tikar. Usaha pun berhenti selama satu tahun karena harga bahan baku naik terutama pewarna kimianya mahal.

Untunglah kondisi buruk itu tak berlangsung lama. Bantuan modal pinjaman lunak sebesar 20 juta rupiah didapat. Sejak saat itu, usahanya bangkit kembali. Roda bisnis terus berputar, hingga berkembang dan mampu menghidupi 50 orang karyawan, 10 orang pengrajin bordir dan 7 orang penjahit. Omset perbulan juga mencapai angka 60 juta rupiah.

Batik Motif Jumputan Khas Bojonegoro

Pembeli batik jumputan UD Riski saat ini tak hanya berasal dari wilayah Bojonegoro, namun telah meluas hingga ke Banyuwangi, Surabaya, Malang , Cepu, Madura bahkan sampai keluar jawa yaitu Sulawesi.

Keberhasilan Sri tak terlepas dari kemampuannya mengelola keuangan, namun juga didukung oleh keunggulan produk yang diproduksinya. Produk utama dari UD Riski ini terdiri dari mukena, seprai, daster, dan kain-kain jumputan.

Keunggulan dari mukena produksi Hj. Sri Supatiniyati ini bahannya dingin, terbuat dari bahan santhung dan paris. Corak warnanya cerah dengan dengan ciri khas dari Bojonegoro. Serta seprainya terbuat dari kain yang halus, nyaman dan dingin.

Harga produknya pun bervariasi. Mukena dibandrol dengan harga Rp 165 ribu hingga Rp 500 ribu untuk yang berbahan dasar sutra. Sedangkan untuk kain jumputan, konsumen dapat membelinya dengan harga Rp 25 ribu sampai Rp 150 ribu.

Bahkan untuk beberapa produknya, Sri telah mendapatkan hak paten dari Departemen Perindustrian. Hak paten ini didapat Sri untuk 4 motif batik jumputan yang diproduksinya, yaitu motif bunga, jumputan, bentuk bebek dan kotak-kotak. Produk UD Riski bisa didapatkan di showroom di Bojonegoro, dan ditaruh di beberapa toko.

Selain piawai menangani keuangan dan terus berinovasi dalam mengembangkan produknya, Sri juga melakukan promosi dengan cara mengikuti pameran-pameran. Kiat ini efektif untuk menjaring konsumen dari berbagai kalangan dan daerah. Saat pameran pernah mendapat pesanan seragam batik jumputan untuk karyawan rumah sakit Bojonegoro sebanyak 600 pasang.

Dan jika menjelang Hari Raya Idul Fitri, UD Riski sering kali kewalahan menerima pesanan mukena, sampai harus berhenti menerima pesanan satu bulan sebelum lebaran. Perempuan yang juga memiliki usaha rias pengantin ini mengakui bahwa usahanya berkembang pesat berkat ketekunan dalam menjalankan usaha dan keinginan Sri untuk terus menambah wawasan di bidang manajemen dan desain motif batik, diharapkan dapat terus membuat bisnisnya membumbung tinggi

Saya ingin sukses seperti orang-orang. Jika usaha ini terus maju, saya dapat menambah tenaga kerja dan bisa mengurangi pengangguran di daerah saya

 

Usaha Batik Jumputan Bojonegoro – Wirausaha Sukses

 

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *