Luna Sutisna, Pelopor Koper Wastra Indonesia

Kain Indonesia sangat bagus dan baik mutunya. Motif maupun prosesnya yang berwarna-warni dari masing-masing daerah memberi kekhasan serta kekayaan yang tak ternilai. Sebut saja Tenun Ikat dari Flores, Tenun Buna dari Timor, Tenun Sumba, Tenun songket dan ikat dari Bali, Tenun Sumatera Utara, Riau, Padang, Palembang, Tuban-Jawa, dan pastinya Batik dari bermacam daerah yang sangat menawan.

Erna Sutisna Mardjoeni, founder LUNA SUTISNA, ingin kekayaan wastra Indonesia ini lebih dikenal luas, sesuai gaya, dan tak kalah istimewanya. Ia mengkonversi tenunan menjadi pelengkap fashion serta traveling, berupa koper wastra etnik. Kini LUNA SUTISNA kian berkibar, dan ibu tiga anak ini pun tiada henti memamerkan kebanggaan atas keberagaman budaya Indonesia lewat kain-kain yang disulap menjadi koper elegan.

Koper Wastra Indonesia

 

Koper Wastra LUNA SUTISNA

Awal berdirinya LUNA SUTISNA itu sekitar lima tahun silam. Sekali waktu, Erna Sutisna Mardjoeni pergi ke rumah ibunya dan beliau bercerita bahwa dulu almarhum ayahnya adalah pria yang gigih dalam berkarya. Beliau dulu pekerja biasa, kemudian menjadi juragan tas terbesar di kota kecilnya di Gresik dengan mengangkat adik-adiknya dari desa (Tulungagung) untuk diajari membuat kerajinan tersebut, yaitu tas siap pakai untuk sekolah, kantor, dan bepergian.

Setiap akhir minggu, almarhum sudah mengumpulkan satu ruangan khusus hasil kerajinan tas adik-adiknya, tetangga, maupun orang-orang dari desa lain yang kemudian disetorkan ke toko-toko di Surabaya. Hal itu terus berlangsung dari tahun 1960 – 1971 dan berakhir ketika almarhum ayah diangkat menjadi seorang Kepala Desa. Usahanya tidak ada yang meneruskan.

MENJADI TRENDSETTER, BUKAN FOLLOWER

Produk pertama LUNA SUTISNA dibuat pada tahun 2012, tapi dipasarkan offline karena masih kuatir produk akan gagal. Proses pembuatannya secara manual, sampai saat ini, karena komitmen Luna Sutisna untuk memberi wadah bagi keahlian teman-teman di sentra pembuatan tas, koper, jaket, dan lain-lain yang terkena dampak bencana alam maupun kurang beruntung.

Erna Sutisna Mardjoeni yang pertama kali mengaplikasikan ide pembuatan koper dengan kain wastra Indonesia. Dan meski awalnya dari mulut ke mulut namun syukurlah Luna Sutisna sudah mendunia hingga ke Amerika, Australia, Asia, dan Eropa. Koper kami sudah melanglang buana untuk uji coba ketangguhannya sampai ke daratan Afrika. Erna Sutisna bersyukur menjadi trendsetter dan bukan follower.

SEMAKIN RUMIT, SEMAKIN BERNILAI

Membuat koper dari kain asli Indonesia memberi tantangan tersendiri, apalagi LUNA SUTISNA komitmen ingin semua produk dibuat secara manual. Sementara itu juga harus menempatkan motif kain dengan posisi yang pas, tiap kain motifnya beda, bahkan banyak kain terutama tenun dari NTT itu ada motif besar, motif kecil, dan pola garis-garis, semua dalam satu kain. Tapi sangat senang dan bangga bila tiap koper LUNA SUTISNA memiliki ‘soul’ dan penghargaan bagi budaya Indonesia.

Koper Luna Sutisna dibuat dalam tiga tipe berdasarkan ukuran:

  • Antonio, cabin size 2 roda, ukuran 42x39x23 cm, berat koper > 2 Kg
  • Rodrigues, cabin size 4 roda, ukuran 50x35x23 cm, berat koper >2 Kg
  • Roberto, baggage size 4 roda, ukuran 65x45x25 cm, berat koper 4 Kg

Menyeret sebuah koper dengan bahan umum sudah biasa, namun bagi mereka yang menyeret koper Luna Sutisna berbahan wastra asli Indonesia (tenun, batik tulis, dan sulam khas) merupakan satu kebanggaan dan pasti akan menjadi pusat perhatian.

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *